Kesehatan

Rapid Antigen Bekas, Modal Irit Untung Berlipat

Oleh: Rina Fauziah  (Pegiat Literasi Komunitas Pena Langit) Muslimahvoice.com - Miris niat hati memastikan diri untuk tidak terkena covid 19, 9 ribu orang malah menjadi korban rapid test bekas di Bandara Kualanamu, Sumatra Utar…

LIMBAH BAHAYA DAN KEBIJAKAN KAPITALISTIK

Muslimahvoice.com  /Limbah Batubara FABA Kini Tidak Berbahaya/ Pemerintah mengeluarkan limbah batu bara dari kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Ketentuan tersebut diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 T…

Khilafah Menoreh Tinta Emas dalam Mengurus Kesehatan Umat

Oleh: Ummu Aafiyah Muslimahvoice.com - Dalam Islam, kebutuhan atas pelayanan kesehatan termasuk kebutuhan dasar  masyarakat yang menjadi kewajiban negara. Namun sayang, penguasa saat ini tampak berlepas tangan dari kewajiban un…

DARURAT LIMBAH INFEKSIUS: BUTUH PENGELOLAAN SERIUS

Muslimahvoice.com - Pandemi Covid-19 yang telah melanda dunia lebih dari 1 tahun ini telah menimbulkan permasalahan baru yaitu adanya limbah medis infeksius, yang tergolong ke dalam bahan berbahaya dan beracun (B3). Limbah infeks…

Kegagalan Demokrasi dalam Pelayanan Kesehatan

Muslimahvoice.com - Menjamin kesehatan rakyat adalah salah satu kewajiban negara dalam melindungi nyawa rakyatnya. Banyak cara yang dapat dilakukan mulai dari memberikan sarana dan prasarana yang memadai termasuk didalamnya membe…

Polemik Sinovac, Memvaksin Masyarakat atau Memasyarakatkan Vaksin?

Oleh: Pipit Agustin (Koordinator JEJAK) Muslimahvoice.com - Pemerintah telah membuat daftar prioritas penerima vaksin Covid-19. Kelompok prioritas pertama adalah tenaga kesehatan, asisten tenaga kesehatan, tenaga penunjang yang b…

Tertinggi Se-Asia, Prestasi atau Frustasi?

Oleh: Desi Wulan Sari  Muslimahvoice.com - Jika pencapaian tertinggi sebuah tujuan diraih, maka akan menjadi simbol kebahagiaan. Tetapi, jika pencapaian tertinggi diraih namun tidak  pada bidang yang tepat, tentu akan menjadi seb…

Kematian Nakes Tertinggi, Bukti Kapitalis Masih Merajai

Oleh : Septa Yunis (Analis Muslimah Voice)  Muslimahvoice.com - Kasus covid-19 semakin meningkat dan banyak menelan korban. Tak terkecuali tenaga kesehatan. Banyak dari mereka gugur akibat terjangkit virus yang mematikan tersebut…

Vaksin, Tak Sekedar Menciptakan Imunitas

Oleh : Hani Handayani. A.Md  (Penggiat Literasi) Penyebaran virus Covid-19 tidak bisa di hindari dan virus akan tetap ada, aktivitas masyarakat harus terus tetap berjalan demi berputarnya ekonomi negara. Oleh karena itu, pemeri…

Bahaya, Melepas Vaksin Covid Pada Mekanisme Pasar

Oleh: Puji Ariyanti (Pegiat Literasi untuk peradaban) Pemerintah melalui kementrian kesehatan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data sebaran peta penyebaran virus corona. Data terakhir yang dilansir dari …

Benarkah Vaksinasi Solusi untuk Pencegahan Covid-19

Oleh: Heni Satika  (Praktisi Pendidikan) Pemerintah merencanakan vaksinasi massal di awal tahun 2021 untuk mengatasi wabah corona. Tercatat data per Kamis, 7 Oktober 2020 pukul 16.00 terjadi penambahan 4.538 kasus baru. Penamba…

Solusi Penanganan Wabah Dalam Perspektif Islam

Oleh : Widya Fauzi ( Revowriter Bandung) Sedih mendengar kabar melonjaknya angka terkonfirmasi Covid-19 dalam beberapa pekan terakhir. PSBB pun kembali direncanakan untuk diterapkan kembali. Namun, hal ini membuat banyak pihak …

Pertahanan Rakyat Bukan hanya Sekadar Selembar Masker Oleh : Salma Shakila Hari ini saya dapat bantuan masker dari pemerintah desa berupa lembaran masker yang tipis. Masker dibagikan untuk seluruh masyarakat tanpa kecuali. Bansos pada banyak warga sudah tak ada lagi. Walau itu hanya 5 kg beras untuk satu bulan. Tanggung jawab pemerintah hanya diwakili oleh lembaran masker yang tipis. Masker yang dibagikan pun jenisnya masker scupa. Masker yang dilarang oleh Departemen Kesehatan karena dianggap tidak aman. Belakangan ini memang tersebar informasi tentang larangan penggunaan masker scupa dan buff karena dinilai tidak memenuhi standar kesehatan dengan tingkat keefektifan melindungi hanya 0-5%. Per 21 September 2020 PT Kereta Commuter Indonesia melarang masker ini ketika masyarakat mau menggunakan transportasi kereta. Lalu mengapa masker ini yang dibagikan dari pemerintah pada warga? Sepertinya tidak ada sinkronisasi di sini. Memakai masker adalah cara perlindungan individu terhadap penyebaran Covid-19. Apa gunanya memakai masker jika masker tak efektif melindungi. Masker yang dianggap paling efektif adalah masker bedah atau ada yang menyebutnya masker kesehatan. Tingkat efektivitasnya dalam melindungi bisa sampai 95%. Jika terpaksa memakai masker dari kain, maka penggunaannya harus 2 atau 3 lapis. Tapi sudah bukan rahasia umum lagi kalau masker kesehatan sangat sulit didapat di pasaran. Kalaupun ada sangat terbatas dan harganya masih mahal padahal masker ini hanya sekali pakai. Tentu banyak masyarakat yang tidak bisa mengaksesnya sekalipun masker ini dikatakan efektif. Lagian saya sebagai warga mengikhlaskan masker bedah atau masker kesehatan biar digunakan oleh tenaga medis yang menjadi garda terdepan dalam memerangi wabah ini. Kemarin-kemarin rumah sakit harus dipusingkan dengan APD yang minim sampai-sampai harus cuci dan pakai lagi. Masa untuk masker standar tadi mereka pun harus berebut stok dengan masyarakat yang notabene dilindungi oleh paramedis ini. Kan aneh? ==== Ah, lagi-lagi hanya soal kecil seperti masker ini saja masyarakat dibuat pusing. Padahal masker hanyalah perlindungan paling tipis dari serangan Virus-19 yang sudah menjadi pandemi. Masalah pandemi Covid-19 bukan hanya soal masker. Tidak sesederha itu. Benarkah menggunakan masker adalah pertahanan terakhir? Tentunya bukan? Dan pasti bukan? Memang menggunakan masker termasuk Ikhtiar yang paling mudah dilakukan masyarakat untuk menghindar dari penularan Covid-19. Tapi tak lantas, masalah selesai hanya dengan selembar masker atau mungkin tiga lembar masker. Perlu diketahui jumlah korban kian hari semakin bertambah. Ini pertanda pandemi belum selesai. Total jumlah korban per 21 September 2020 berjumlah 222.000 dengan penambahan 4.176 kasus dalam satu hari , yang sembuh sejumlah 181.000 serta meninggal sejumlah 9.677. Ingat jangan berhitung prosentase. Berhitunglah satu persatu nyawa rakyat Indonesia yang sangat berharga. Sama seperti kita saat kehilangan orang yang kita cintai. Penambahan kasus sejumlah 50.000 kasus dari 150.000 ke 200.000 kasus hanya butuh waktu 17 hari. Jauh lebih pendek dibanding penambahan kasus dari 2 ke 50.000 kasus sepanjanh 117 hari ketika diberlakukan PSSB di Indonesia. Ini bukti pembatasan efektif mencegah penyebaran virus. Terlebih jika yang diberlakukan adalah karantina wilayah tentu angka kasus positif Covid-19 bisa ditekan secara masif dan banyak warga yang terselamatkan. Selain itu masalah tidak semakin runyam sampai-sampai Indonesia harus dilockdown oleh 59 negara. Bukannya ini begitu menyakitkan. Ya Allah. Jangan lupa Covid-19 adalah persoalan serius. Jangan pernah meremehkan. Ingat bukan tidak percaya pada kekuasaan Allah. Bukan soal itu. Tapi soal ikhtiar dan juga sudah ada tuntunannya dalam syariat-Nya yaitu lockdown alias karantina. Itu lho karantina secara nasional. Angka penyebaran masih tinggi menjadikan lockdown tetap solusi yang harus ditempuh. Wallahu 'alam Bis showab.

Oleh : Salma Shakila Hari ini saya dapat bantuan masker dari pemerintah desa berupa lembaran masker yang tipis. Masker dibagikan untuk seluruh masyarakat tanpa kecuali. Bansos pada banyak warga sudah tak ada lagi. Walau itu  hany…

Klaim Penemuan Obat Corona Virus. Antara Harapan Dan Realita

Oleh: Elin Herlina, S.Farm Tidak sedikit orang Indonesia atau pihak tertentu yang mengeluarkan pernyataan terkait obat atau herbal yang bisa menyembuhkan Covid-19. Salah satunya adalah Hadi Pranoto, seseorang yang memperkenalka…

Muat postingan lainnya
Tak ada hasil yang ditemukan